Di usia yang tak lagi muda, 80 tahun, Bapak Suhadi masih menapaki hari-hari dengan penuh keteguhan. Rambutnya memutih, langkahnya mulai goyah, namun semangatnya tetap kokoh bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk dua cucu kecil yang kini sedang menumpuh pendidikan di Pesantren.
Setiap pagi selepas shalat tahajud, dengan tubuh renta beliau melangkah ke pasar. Belanja sedikit kebutuhan, lalu menjajakannya kembali di dekat masjid tempat ia tinggal. Dari usaha sederhana itu, hanya sekitar Rp40.000 per hari yang didapat. Jumlah kecil yang lebih sering habis untuk modal esok, tanpa cukup tersisa untuk sekadar sepiring nasi.
Namun, yang luar biasa, tak pernah terucap keluh kesah dari lisannya. Jika ada yang memberi, ia terima dengan lapang dada. Jika tidak, ia tetap tersenyum, bersyukur, dan menjalani hari dengan sabar.
Hidup di atas masjid baginya bukan keterbatasan, melainkan karunia. Di sanalah ia merasa lebih dekat dengan Pencipta, lebih terjaga dalam ibadah, dan tak pernah absen dari shalat berjamaah.
Harapan yang sederhana: Di balik kesabaran itu, tersimpan sebuah harapan sederhana : gerobak dan tambahan modal usaha. Gerobak itu akan membuat dagangannya lebih rapi, lebih mudah dijajakan, dan memberi peluang rezeki yang lebih baik. Sementara modal tambahan akan membuat usahanya bertahan, sehingga kebutuhan sehari-hari bersama cucu tercinta bisa tercukupi.
Mari kita hadir sebagai bagian dari cerita indah di sisa perjalanan hidup Pak Suhadi. Sedikit uluran tangan dari kita akan menjadi cahaya baru yang membuat usia senja Bapak Suhadi lebih tenang, lebih layak, dan penuh keberkahan.
Dengan sedekah senilai 10 Ribu berarti besar untuk menyambung kehidupan Pak Suhadi dan Keluarga. Bersama, kita bisa membuat hidup Bapak Suhadi di usia senjanya lebih tenang, layak, dan penuh keberkahan!









