Berawal dari rasa prihatin, kami melihat para petani—pahlawan pangan—justru sering menjadi pihak yang paling tidak berdaya. Mereka memiliki hasil bumi yang melimpah, namun tidak memiliki kuasa untuk menentukan harga. Saat panen tiba, harga justru jatuh drastis; tomat pernah hanya dihargai Rp2.000/kg, bahkan sawi hingga Rp200/kg. Dalam kondisi seperti itu, banyak petani merugi, kehilangan modal, dan terpaksa membuang hasil panennya karena tidak terserap pasar.

Melihat kenyataan tersebut, tim relawan muda Masjid Nurul Ashri turun langsung ke lapangan. Kami tidak ingin hanya hadir sebagai pemberi bantuan sesaat, tetapi berupaya menghadirkan solusi yang lebih adil dan berkelanjutan. Melalui Program Bantu Tani, kami memborong hasil panen dengan harga yang lebih layak, menjemput langsung dari petani, lalu menyalurkannya kembali kepada masyarakat melalui sedekah pangan dan bazar sayur.

Dari upaya ini, lahirlah sebuah rantai kebaikan. Petani mendapatkan harga yang lebih manusiawi dan kembali memiliki semangat untuk menanam, sementara masyarakat—termasuk panti asuhan, pesantren, dan warga dhuafa—mendapatkan akses pangan segar dengan cara yang mudah dan terjangkau.
Bagi kami, ini bukan sekadar program. Ini adalah jembatan kebaikan—menghubungkan petani yang membutuhkan keadilan dengan masyarakat yang membutuhkan kepedulian.
🤲 Mari menjadi bagian dari kebaikan ini.
Dukungan Anda akan membantu lebih banyak hasil panen terselamatkan, lebih banyak petani tersenyum, dan lebih banyak keluarga merasakan manfaatnya.









